Hanya dengan belajar (ikhtiar) dan berdoa (tawakal) kita dapat sukses

Wednesday, 23 October 2013




Berikut ini !!! silakan disimak!!!



ADAB-ADAB MEMBACA AL-QUR’AN

1.  Hukum membaca Al quran saat haid.                
Abdullah bin Umar,,Al Hasan,Atha,dan Thawus meriwayatkan bahwa diantara yang mereka wajibkan untuk berwudhu adalah saat memegang mushaf.
Imam Malik, Hanafi dan Syafi’i berpendapat bahwa suci dari hadas kecil dan hadas besar adalah syarat di perbolehkannya memegang Mushaf Al qur’an. Pendapat ini didasarkan pada ayat :
Artinya:              
Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.”(QS. Al Waqi’ah: 79)
 Para ulama di atas menafsirkan المُطَهَّرُونَ sebagai orang-orang yang bersuci. Baik dengan berwudhu ataupun mandi jinabah.
            Jelas bahwaayat tersebut menerangkan bahwa Al-Qur’an tidak bolah disentuh kecuali oleh orang-orang yang dalam keadaan suci. Orang yang suci disini bermakna bahwa orang tersebut suci dari hadas kecil ataupun hadas besar. Dan orang yang suci tersebut juga dapat diartikan orang mukmin. Dengan lebih diperkkuat lagi oleh firman Allah dalam surat Attaubah : 28
 artinya:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
            Dari ayat diatas da pat disimpulkan bahwa janganlah orang-orang yang musrik itu diberi peluang untuk memegang mushaf. Sebab dia menyentuh dengan tanpa rasa hormat,tidak mengakui bahkan merendahkan mushaf tersebut.[1]
Pendapat ini juga diperkuat dengan hadis-hadis
Orang junub dan wanita haid tidak boleh membaca sedikitpun dari Al Qur’an.” (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi I/236; Al Baihaqi I/89 dari Isma’il bin ‘Ayyasi dari Musa bin ‘Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar)
Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci.”(Hadits Al Atsram dari Daruqutni)
Adalah Nabi saw tidak melarangnya membaca al-Qur'an kecuali karena jinabah.” (HR: Ahmad dan Abu Daud)
Dari Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Wanita haid dan orang yang junub tidak boleh membaca (walaupun satu ayat) Alquran.” — (silsilah periwayat: Ibnu Hujr & al-Hasan bin Arafah dari Ismail bin Ayyash dari Musa bin Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu Umar)”(HR Tirmizi dan Ibnu Majah)
Ali ia berkata, “Dalam keadaan apapun, selain junub, Rasul shallallah ‘alaihi wasallam selalu membacakan Alquran kepada kita.(HR Tirmidzi)
Jabir berkata, “Wanita haid dan nifas serta orang junub tidak boleh membaca Alquran.”(HR Tirmidzi) yang sedang haid dilarang memegang Al Qur’an
            Para ulama sendiri sependapat bahwa orang yang dalam keadaan tidak suci boleh membawa Al-Qur’an yang mngandung banyak tafsir yang diyakini lebih banyak tafsirnya.
            Menurut ulama Syafi’I berdsarkan pendapat muktamad tidak boleh membawa mushaf jika dia bertujuan membawanya bersama barang-barang.
            Dari golongan ulama hanafi sendiri berpendapat bahwa makruh hukumnya bagi orang-orang yang tidak suci memegang mushaf meskipun menggunakan lengan baju karena ia menngikat mengikuti pakaian. Begitu juga makruh hukumnya bagi seseorang yang tidak suci menyelak kertas dengan tangan baju atau dengan tangan kecuali darurat.[2] perkaranya adalah jangan membuka helaian tersebut kecuali dengan wudhu. Namun tidak makruh bagi seseorang yang junub dan haid/nifas melihat Al-Qur’an. Makruh juga membaca Al-Quran ditempat mandi, dan ditempat buang sampah.
            Menurut pendapat yang muktamad dikalangan ulama maliki haram hukumnya bagi orang-orang yang tidak suci membaca Al-Qur’an.
            Sebagian mdzhab syafi’I dari kelompok iraq mengharamkan pembacaan Al-Qur’an oleh perampuan yang dalam keadaan tidak suci. Sebagian lagi dari madzhab syafi’I berpendapat haram bagi orang-orang yang tidak suci membaca Al-Qur’an kecuali sambil memandang kearah mushaf dan membacanya dalam hati tanpa adanya gerakan lidah.[3]
Perlu dingat meskipun ulama-ulama di atas melarang orang yang tidak suci memegang mushaf al-Qur'an, namun mereka membolehkan jika dalam kondisi sebagai berikut:
1.       Menyelamatkan mushaf al-Quran, baik dari hinaan orang lain, maupun jika mushaf itu ditemukan di tempat yang tidak layak atau najis. Dalam kondisi seperti diperbolehkan orang yang tidak berwudhu (atau tidak suci) untuk memegang mushaf.
2.       Ayat-ayat al-Qur'an yang tertulis di buku-buku ilmu dan pengetahuan. Dalam kondisi ini diperbolehkan menyentuh ayat-ayat yang terdapat pada buku-buku ilmu pengetahuan.
3.       Buku tafsir atau buku terjemah, dimana kandungan tafsir atau terjemahnya lebih banyak dari isi al-Quran. Dalam kondisi ini pun diperbolehkan memegang buku tafsir atau buku al-qur'an  terjemah
4.       Mushaf al-Qur'an yang ditulis dengan selain bahasa Arab. Seperti buku Yasin yang banyak ditulis dengan tulisan latin, maka hal ini pun diperbolehkan menyentuh atau memegangnya.
5.       Mushaf al-Quran yang digunakan untuk belajar anak-anak yang belum baligh. Anak-anak yang belum mukallaf diperbolehkan memegang mushaf. Namun orang tua/walinya dianjurkan memperhatikannya agar tidak diperlakukan tidak baik oleh mereka.
6.       Diperbolehkan membawa mushaf al-Quran dalam kantong yang terpisah dengan al-Quran (bukan sampul yang menempel langsung dengan al-Quran), seperti kantong plastik, kantong belanja, tas dan lain sebagainya. Adapun jika memegang al-Qur'an, meskipun disampul dengan bahan tebal, sedangkan sampul itu menempel dengan al-Aquran, maka hal itu tidak diperbolehkan.
7.       Ayat al-Quran yang tertulis di koin atau lembaran uang (seperti mata uang di Negara-negara Arab) boleh dipegang karena terdapat kesulitan menghindarinya.[4]


KESIMPULAN

            Dari keteranngan diatas terdapat perbedaan terhadap hukum menyentuh mushaf pada saat dalam keadaan tidak suci. Meskipun telah diterangkan jelas bahwa hukum menyentuh mushaf adalah haram saat tidak suci maka hendaklah kita membersihkan diri pada saat akan menyentuh mushaf kecuali saat dalam keadaan tertentu seperti pada keterangan yang tertera diatas.

2.  Bolehnya Membaca Al-Qur`an Dalam Keadaaan Berjalan dan Berbaring
Dalil akan hal itu adalah firman Allah Ta’ala:
Orang-orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.“ (QS. Ali Imran: 191)
Dan firman Allah Ta’ala:
Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kalian mengingat nikmat Rabb kalian, apabila kalian telah duduk di atasnya. Dan suapaya kalian mengucapkan: Maha Suci Dia yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami hanya kembali kepada Rabb kami.“ (QS. Az-Zukhruf: 13 – 14 )
Dan As-Sunnah juga telah menerangkan hal ini seluruhnya. Dari hadits Abdullah bin Mughaffal radhiallahu anhu dia berkata:
Saya telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam paha hari penaklukan Makkah, di mana beliau membaca surah Al-Fath di atas tunggangan beliau.“ (HR. Al-Bukhari no. 5034 dan Muslim no. 794)
Dan dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersandar di pangkuanku sementara saya dalam keadaan haidh, lalu beliau membaca Al-Qur`an.“ (HR. Al-Bukhari no. 297 dan Muslim no. 301)
Adapun bagi seorang yang sedang berjalan, maka dapat dianalogikan kepada seseorang yang sedang berada di atas kendaraan, karena keduanya tidak ada perbedaan.

Faedah:
Pada hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, menunjukkan bolehnya membaca Al-Qur`an di pangkuan seorang wanita yang tengah haidh atau nifas. Dan yang dimaksud dengan bersandar di sini adalah meletakkan kepala di pangkuan. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bolehnya membaca Al-Qur`an di dekat tempat yang najis, sebagaimana yang dikatakan oleh an-Nawawi.” [Fath Al-Baari: 1 / 479]


3.  Ucapan “Shadaqallahul ‘Azhim” setelah membaca Al Quran?
Bacaan “shadaqallahul ‘azhim” setelah membaca Al Qur’an merupakan perkara yang tidak asing bagi kita tetapi sebenarnya tidak ada tuntunannya, termasuk amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya, bahkan menyelisihi amalan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam ketika memerintahkan Ibnu Mas’ud untuk berhenti dari membaca Al Qur’an dengan kata “hasbuk”(cukup), dan Ibnu Mas’ud tidak membaca shadaqallahul’adzim.

Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan:
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam telah berkata kepadaku, “Bacakan kepadaku (Al Qur’an)!” Aku menjawab, “Aku bacakan (Al Qur’an) kepadamu? Padahal Al Qur’an sendiri diturunkan kepadamu.” Maka Beliau menjawab, “Ya”. Lalu aku membacakan surat An Nisaa’ sampai pada ayat 41. Lalu beliau berkata, “Cukup, cukup.” Lalu aku melihat beliau, ternyata kedua matanya meneteskan air mata.

Syaikh Muhammad Musa Nashr menyatakan, “Termasuk perbuatan yang tidak ada tuntunannya (baca: bid’ah) yaitu mayoritas qori’ (orang yang membaca Al Qur’an) berhenti dan memutuskan bacaannya dengan mengatakan shadaqallahul ‘azhim, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan bacaan Ibnu Mas’ud dengan mengatakan hasbuk (cukup). Inilah yg dikenal para salaf dan tidak ada keterangan bahwa mereka memberhentikan atau mereka berhenti dengan mengucapkan shadaqallahul ‘azhim sebagaimana dianggap baik oleh orang-orang sekarang”. (Al Bahtsu wa Al Istiqra’ fi Bida’ Al Qurra’, Dr Muhammad Musa Nashr, cet 2, th 1423H)

Kemudian beliau menukil pernyataaan Syaikh Mustafa bin Al ‘Adawi dalam kitabnya Shahih ‘Amal Al Yaumi Wa Al Lailhlm 64 yang berbunyi, “Keterangan tentang ucapan Shadaqallahul’azhim ketika selesai membaca Al Qur’an: memang kata shadaqallah disampaikan Allah dalam Al Qur’an dalam firman-Nya,

Katakanlah:’Benarlah (apa yang difirmankan) Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs Ali Imran:95)

Memang benar, Allah Maha Benar dalam setiap waktu. Namun masalahnya kita tidak pernah mendapatkan satu hadits pun yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhiri bacaannya dengan kata “Shadaqallahul’azhim.”

Di sana ada juga orang yang menganggap baik hal-hal yang lain namun kita memiliki Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam sebagai contoh teladan yang baik. Demikian juga kita tidak menemukan satu atsar, meski dari satu orang sahabat walaupun kita mencukupkan pada hadits-hadits Nabi shallallanhu’alaihi wa sallam setelah kitab Allah dalam berdalil terhadap masalah apa pun. Kami telah merujuk kepada kitab Tafsir Ibnu Katsir, Adhwa’ Al Bayan, Mukhtashar Ibnu katsir dan Fathul Qadir, ternyata tak satu pun yang menyampaikan pada ayat ini, bahwa Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam pernah mengakhiri bacaannya dengan shadaqallahul ‘azhim.(Lihat Hakikat Al Maru Bil Ma’ruf Wa Nahi ‘Anil munkar, Dr Hamd bin Nashir Al ‘Amar,cet 2)

Bila dikatakan “Cuma perkataan saja, apa dapat dikatakan bid’ah?” Perlu kita pahami,bahwa perbuatan bid’ah itu meliputi perkataan dan perbuatan sebagaimana sabda Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam,

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR Muslim)

Sehingga apa pun bentuknya, perkataan atau perbuatan yang dimaksudkan untuk ibadah yang tidak ada contohnya dalam agama, maka ia dikategorikan bid’ah. Bid’ah ialah tata cara baru dalam agama yang tidak ada contohnya, yang menyelisihi syariat dan dalam mengamalkannya dimaksudkan sebagai ibadah kepada Allah.

Wallahu a’lam.

4. Membaca Tartil/Tadabbur Atau Cepat ?
Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Sholawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was sallam kepada istri-istri beliau dan seluruh sahabatnya Ridwanullah alaihim ajma’in.

Al Qur’an merupakan sebuah kitab yang sangat agung. Dalam banyak firman Allah Subhana wa Ta’ala kita temui sedemikian beragam keistimewaan Al Qur’an. Diantaranya adalah firman Allah Subhana wa Ta’ala berikut,

   

    “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (QS. Al Baqoroh [2] : 2)

Dalam ayat yang lain,

    “Sesungguhnya Kami-lah (Allah) yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al Hijr [15] : 9)

Dalam ayat yang lain lagi,

    “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. (QS. An Nisaa’  [4] : 82)

Masih banyak sekali keutamaan Al Qur’an yang tidak dapat kita cantumkan dalam kesempatan ini baik itu yang terdapat dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Selain keutamaan Al Qur’an itu sendiri terdapat juga keutamaan yang amat besar bagi orang yang membacanya. Firman Allah ‘Azza wa Jalla

   

    “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. (QS. Faathir [35] : 29-30)

Demikian juga telah dinukil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

    “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dilipatkan menjadi sepuluh kali lipat yang semisal dengannya. Aku tidaklah mengatakan Alif Lam Mim satu huruf melainkan alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”[1].

Nah, jika kita perhatikan dalil-dalil di atas maka mungkin saja kita akan beranggapan yang lebih utama ketika membaca Al Qur’an adalah dengan tartil yang disertai tadabbur atau membacanya dengan cepat?

Maka jawabnya adalah jika membaca cepat (yang kami maksudkan karena ingin memperbanyak jumlah huruf yang dibaca sehingga mendapatkan kebaikan yang lebih banyak) tanpa merusaknya (tajwid, makhroj hurufnya) maka sebagian ulama mengganggap hal itu lebih utama. Sedangkan sebagian ulama lainnya menganggap lebih utama membacanya dengan mentadabburinya.

Ibnu Hajar Al Asqolani Rohimahullah mengatakan,

    “Yang lebih tepat berdasarkan penelitian adalah keduanya memiliki keutamaan masing-masing dari sudut pandang dalilnya masing-masing. Asalkan dengan syarat orang yang membaca Al Qur’an dengan cepat tidak merusak huruf, harokat, sukun dan hal-hal yang wajib lainnya. Maka dapat saja mengutamakan membaca cepat atau tadabbur atau bahkan menganggapnya sama. Karena orang yang membacanya dengan tadabbur sebagaimana orang yang bersedekah dengan permata yang berharga. Sedangkan orang yang membaca cepat sebagaimana orang yang bersedekah dengan perhiasan selain permata namun harga/nilainya sama dengan permata”[2].

5.  Membaca Al-Qur’an di bawah pusar
     Oleh karena mushchaf al-Qur’an ini adanya beberapa tahun sesudah Nabi SAW (zaman beliau belum ada mushchaf) maka keseluruhan pendapat tentang mushchaf al-Qur’an ini adalah ijtihadiy (produk pemikiran ulama) yang kemudian menjadi kesepakatan umat islam. Ada beberapa hal yang disepakati oleh para ulama al-Qur’an terkait dengan tata kerama dan penghormatan (bukan pengkultusan) kepada mushchaf al-Qur’an, antara lain:

    Hanya umat islam yang boleh menyentuh dan memegang mushchaf al-Qur’an; non muslim tidak diperbolehkan
    Hanya umat islam yang suci dari hadas besar dan hadas kecil yang boleh menyentuh dan memegang mushchaf al-Qur’an, kecuali dalam keadaan darurat
    Tidak boleh membawa mushchaf al-Qur’an dengan posisi dibawah pusar
    tidak boleh menaruh mushchaf al-Qur’an ditempat rendah yan tidak terpelihara
    Tidak boleh menaruh benda apapun diatas mushchaf al-Qur’an
    Tidak boleh merusak atau membakar mushchaf alQur’an yang masih utuh
    Tidak boleh melakukan tindakan yang bernuansa menghina mushchaf al-Qur’an, seperti menginjak, meludahinya, apalagi mengencinginya.



Follow me www.twitter.com/doel_mi
Categories:


Semoga semua posting-an saya bermanfaat bagi saudara sekalian semua. Apabila ada pertanyaan bisa menghubungi saya lewat Facebook, Twitter atau Email

0 comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik yaitu mereka yang telah membaca kemudian memberikan komentar meskipun komentar itu pahit atau baik.